Hinterland.Id, Batam – Bagi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam, Ardiwinata, pandemi COVID-19 telah mengubah cara daerah membangun sektor pariwisata. Menurutnya, keberhasilan destinasi wisata tidak lagi dapat dicapai secara sendiri-sendiri, melainkan melalui inovasi, kemampuan beradaptasi, dan kolaborasi lintas pelaku industri.
Berbicara dalam sebuah forum pelaku pariwisata Indonesia dan Malaysia, Ardiwinata mengatakan pemulihan industri wisata membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan sebelum pandemi.
“Setelah COVID-19, kita tidak boleh berjalan sendiri. Ada tiga hal yang harus kita pahami bersama, yaitu mampu berinovasi, mampu beradaptasi dengan kondisi saat ini, dan mampu berkolaborasi,” katanya, Kamis 23 Juli 2026.
Menurut Ardiwinata, pemerintah memiliki keterbatasan dalam mengembangkan sektor pariwisata jika bekerja sendiri. Karena itu, keterlibatan asosiasi, pelaku usaha, agen perjalanan, hingga industri perhotelan menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing Batam sebagai destinasi wisata.
Ia menilai kegiatan yang mempertemukan pelaku industri dari kedua negara perlu diperbanyak karena membuka peluang kerja sama bisnis sekaligus memperluas jaringan promosi.
“Kegiatan seperti ini harus lebih banyak lagi. Pemerintah memiliki keterbatasan, tetapi kolaborasi dengan seluruh pelaku pariwisata mampu memperkuat pengembangan pariwisata Batam,” ujarnya.
Wisatawan Malaysia tetap menjadi pasar utama
Ardiwinata juga menyoroti posisi Malaysia sebagai salah satu pasar wisatawan mancanegara terbesar bagi Kepulauan Riau.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, hingga Mei tahun ini wisatawan asal Malaysia menempati peringkat kedua penyumbang kunjungan wisatawan mancanegara ke Provinsi Kepulauan Riau, dengan jumlah mencapai 216.178 orang.
Ia menyebut tren tersebut menunjukkan pemulihan yang sangat kuat setelah pandemi.
“Pada Mei kemarin pertumbuhannya hampir mencapai 300 persen,” katanya.
Menurutnya, meningkatnya kunjungan tersebut tidak hanya dipengaruhi kedekatan geografis maupun nilai tukar mata uang, tetapi juga karena Batam terus mengembangkan produk wisatanya.
Jika sebelumnya banyak wisatawan Malaysia datang untuk bermain golf, kini mereka mulai membawa keluarga dan menikmati beragam pilihan wisata yang tersedia.
“Kalau dulu mungkin datang untuk bermain golf. Sekarang mereka membawa istri, anak-anak, bahkan keluarga besar karena destinasi di Batam semakin beragam,” katanya.
Selain wisata belanja dan kuliner, Batam juga menawarkan wisata religi, ruang publik, serta berbagai atraksi yang dinilai semakin menarik bagi wisatawan keluarga.
Menjadikan Batam sebagai pintu mengenal Indonesia
Dalam kesempatan itu Ardiwinata juga menggambarkan posisi strategis Batam sebagai gerbang wisata Indonesia, khususnya bagi wisatawan dari Malaysia.
Menurutnya, pengalaman berwisata di Batam dapat menjadi pintu awal bagi wisatawan asing untuk mengenal destinasi lain di Indonesia.
“Kalau ingin mengenal Indonesia, tidak perlu jauh-jauh dulu. Batam bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap hubungan antara pelaku industri pariwisata Batam dan Malaysia semakin erat sehingga mampu menghasilkan kerja sama bisnis yang berkelanjutan.
Menutup sambutannya, Ardiwinata mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga kolaborasi dan memastikan forum serupa tidak berhenti pada satu kegiatan saja.
“Jangan hanya sekali. Kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan agar kerja sama yang sudah terbangun bisa berkembang menjadi peluang bisnis dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Batam,” tutupnya.







