Hinterland.id, Batam – Aktivitas di Bandara Internasional Hang Nadim meningkat tajam pada pertengahan Februari 2026, terutama pada perayaan Imlek beririsan dengan periode menjelang Ramadan. Dua momentum yang berbeda secara budaya ini bertemu dalam satu waktu, dan dampaknya terlihat jelas pada pergerakan pesawat dan jumlah penumpang.
Kenaikan Dua Digit dalam Lima Hari
Data operasional bandara menunjukkan, pada periode 8 hingga 12 Februari 2026, sebelum memasuki masa libur, tercatat 398 pergerakan pesawat dengan total 55.207 penumpang. Rata-rata harian berada di angka 79 penerbangan dan 11.041 penumpang.
Memasuki periode 13 hingga 17 Februari 2026, jumlah tersebut meningkat menjadi 451 pergerakan pesawat dengan total 63.804 penumpang. Artinya, dalam lima hari terdapat tambahan hampir 8.600 penumpang dibandingkan periode sebelumnya. Rata-rata harian pun naik menjadi 90 penerbangan dan 12.760 penumpang.
Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam, Annang Setia Budhi, menyebutkan terjadi peningkatan sebesar 13,3 persen pada pergerakan pesawat dan 15,5 persen pada jumlah penumpang. Kenaikan penumpang yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan penerbangan mengindikasikan tingkat keterisian kursi yang semakin padat.
“Terjadi peningkatan pada jumlah pergerakan pesawat udara sebesar 13.3% dan penumpang sebesar 15.5 persen,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu, 18 Februari 2026.
Momentum Budaya dan Religi
Lonjakan ini tidak terlepas dari karakter mobilitas masyarakat Indonesia. Imlek menjadi momen berkumpul bersama keluarga, sementara menjelang Ramadan biasanya terjadi peningkatan perjalanan untuk keperluan silaturahmi, bisnis, maupun persiapan ibadah.
Batam memiliki posisi strategis sebagai kota industri sekaligus pintu gerbang wilayah perbatasan. Pergerakan tenaga kerja, pelaku usaha, hingga wisatawan domestik dan regional menjadikan dinamika lalu lintas udara di kota ini relatif sensitif terhadap momentum musiman.
“Kita sudah jauh-jauh hari memesan tiket saat harga murah. Sayang saja kalua terlewatkan, mumpung punya Waktu dan momen yang pas kumpul keluarga. Jadilah kita pulang kampung beramai-ramai,” kata seorang penumpang, Febri saat dijumpai di bandara.
Indikator Denyut Ekonomi
Di balik angka statistik tersebut, tersimpan implikasi ekonomi yang lebih luas. Setiap peningkatan ribuan penumpang berarti tambahan aktivitas transportasi darat, konsumsi di sektor kuliner, hingga okupansi penginapan. Bandara kerap menjadi barometer awal untuk membaca pergerakan ekonomi suatu daerah.
“Sebelum berangkat biasanya penumpang ngopi dulu di bawah. Lumayanlah kalua sudah imlek nanti kan dekat lagi lebaran, sampai penuh kursi kami,” terang Lisa, pedangan di kios binaan bandara.
Jika tren kenaikan dua digit ini berlanjut hingga puncak Ramadan dan Idulfitri, tantangan operasional kemungkinan akan meningkat. Bagi pengelola bandara dan maskapai, menjaga kelancaran layanan di tengah lonjakan permintaan menjadi ujian tersendiri. Sementara bagi Batam, angka-angka tersebut mencerminkan satu hal: mobilitas tetap menjadi denyut utama kota ini.








