Hinterland.id, Banten – Di ruang terbuka Alun-Alun Kota Cilegon, Sabtu sore 7 Februari 2026, sebuah monumen diresmikan—bukan untuk mengenang perang atau tokoh politik, melainkan perjalanan media siber Indonesia. Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, menandai peresmian Monumen Media Siber Indonesia sebagai bagian dari rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten.
Monumen itu berdiri sebagai simbol perjalanan media digital yang dalam satu dekade terakhir mengubah wajah komunikasi nasional. Dari ruang redaksi kecil hingga jaringan media daring yang menjangkau pelosok Nusantara, pertumbuhan pers siber berlangsung cepat dan kerap tanpa banyak sorotan.
Simbol “Legacy” Digital
Peresmian dilakukan usai sambutan Firdaus, disaksikan sejumlah tokoh daerah, termasuk mantan Wali Kota Cilegon Iman Ariyadi, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo, perwakilan Dewan Pers Yogi, serta Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kota Cilegon Ahmad Aziz Deti.
Dalam pidatonya, Firdaus menyebut monumen tersebut sebagai “simbol sejarah dan legacy besar perjalanan media digital di tanah air.” Ia menekankan bahwa bangunan itu bukan sekadar artefak fisik, melainkan representasi nilai perjuangan dan transformasi komunikasi di Indonesia.
“Kita terjun ke dunia pers bukan sekadar untuk bekerja, tetapi menjalani profesi mulia. Jurnalis bukan alat kekuasaan, melainkan cahaya bagi masyarakat,” katanya.
Pernyataan itu mencerminkan ambisi pers siber untuk menegaskan identitasnya di tengah lanskap media yang kompleks diwarnai konglomerasi, tekanan ekonomi, dan gelombang disinformasi.
Dari “Jalan Sunyi” ke Jaringan Nasional
Firdaus mengenang fase awal sekitar 2017, ketika media daring mulai berkembang sebagai alternatif di tengah dominasi media cetak dan kelompok media besar. Saat itu, platform digital menawarkan ruang partisipasi baru, lebih cepat, lebih inklusif, dan lebih dekat dengan pembaca.
Menurutnya, Cilegon memiliki posisi strategis dalam perjalanan organisasi. Kota industri di Banten itu disebut sebagai salah satu fondasi awal sebelum SMSI berkembang ke seluruh Indonesia, termasuk Papua.
Kini, SMSI mengklaim telah hadir dari Sabang hingga Merauke. Pertumbuhan itu menunjukkan bagaimana media siber yang dulu kerap dipandang sebelah mata menjadi bagian penting dalam ekosistem informasi nasional.
Antara Ideal dan Tantangan
Namun, monumen ini juga berdiri di tengah tantangan besar. Transformasi digital membawa peluang sekaligus risiko, penyebaran hoaks, polarisasi opini, hingga tekanan terhadap independensi redaksi.
Dengan menjadikan monumen sebagai penanda sejarah, SMSI tampaknya ingin menegaskan bahwa media siber bukan sekadar produk teknologi, melainkan bagian dari perjalanan demokrasi Indonesia.
Harapannya, monumen ini menjadi pengingat bagi generasi jurnalis berikutnya tentang pentingnya profesionalisme, integritas, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Di alun-alun kota, ruang publik tempat warga berkumpul, monumen itu kini berdiri. Ia menjadi simbol bahwa di era digital, sejarah tidak hanya ditulis di atas kertas, tetapi juga di layar, server, dan ingatan kolektif bangsa.










