Hinterland.id, Banten – Di tengah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, langkah yang diambil Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Serang, Banten, melampaui seremoni tahunan. Pada Minggu petang, 8 Februari 2026, organisasi perusahaan pers berbasis digital itu meletakkan batu pertama pembangunan Museum Media Siber Indonesia. Sebuah proyek yang dimaksudkan untuk merawat ingatan sekaligus merespons masa depan jurnalisme.
Lokasinya berada di Jalan Syekh Nawawi Al-Bantani No. 20, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok Jaya, berdampingan dengan Kantor Samsat Kota Serang. Pilihan tempat di pusat aktivitas kota memberi pesan tersirat, museum ini tidak hendak berdiri sebagai ruang sunyi, melainkan menjadi bagian dari denyut keseharian publik.
HPN sendiri diperingati setiap 9 Februari untuk menandai peran pers dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Namun, bagi SMSI organisasi yang menjadi konstituen Dewan Pers dan menaungi ribuan perusahaan media siber, peringatan tahun ini menjadi momentum institusional.
Simbol Peradaban
Peletakan batu pertama dilakukan pukul 17.44 WIB oleh Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, dan dilanjutkan oleh Ketua Umum SMSI Pusat, Firdaus. Sejumlah wartawan dari berbagai daerah mulai reporter hingga pemimpin redaksi turut hadir, bersama masyarakat Kota Serang.
Dalam sambutannya, Dimyati menyebut pembangunan museum ini sebagai simbol peradaban sejarah dan budaya di Provinsi Banten.
“Peletakan batu pertama museum ini menjadi simbol bahwa peradaban sejarah dan budaya akan dibangun di Provinsi Banten oleh SMSI,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa sebuah gagasan yang relevan di era ketika arus informasi bergerak cepat dan sering kali dangkal. Mengutip pesan klasik tentang sejarah, ia mengingatkan agar generasi mendatang tidak tercerabut dari akar masa lalu.
Ekosistem Pendidikan Pers
Bagi SMSI, museum ini bukan sekadar ruang pajang artefak. Firdaus menyebutnya sebagai bagian dari satu kesatuan ekosistem pendidikan pers bersama jurnalis boarding school dan monumen yang tengah digagas.
“Kita punya jurnalis boarding school, kita punya museum, lalu kita punya monumen. Itu satu kesatuan. Harapannya, kita terus menggalakkan literasi digital dan terus bergerak,” katanya.
Museum ini direncanakan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama akan difungsikan sebagai ruang pamer yang menampilkan sejarah pers, alat cetak dan tulis, serta perlengkapan jurnalistik dari mesin tik hingga perangkat media daring. Lantai kedua akan menjadi balai wartawan, ruang interaksi dan diskusi bagi insan pers.
Dalam konteks industri media yang terus berubah dari cetak ke digital, dari redaksi fisik ke ruang virtual, museum ini bisa dibaca sebagai upaya merawat transisi. Ia hendak menunjukkan bahwa inovasi tidak berarti memutus kontinuitas sejarah.
Antara Sejarah dan Masa Depan
Di Banten, wilayah yang memiliki jejak panjang peradaban dan perdagangan pendirian Museum Media Siber Indonesia menambah satu simpul narasi baru, bahwa sejarah tidak hanya milik kerajaan dan benteng, tetapi juga ruang redaksi dan halaman berita.
Harapannya, museum ini kelak menjadi ruang belajar bagi pelajar dan generasi muda untuk mengenal sejarah pers, sejarah Banten, dan sejarah bangsa secara lebih luas. Di tengah tantangan hoaks, polarisasi informasi, dan tekanan terhadap independensi media, pendidikan literasi digital menjadi isu mendesak.
Pembangunan fisik museum mungkin baru dimulai dengan satu batu pertama. Namun gagasan di baliknya merawat memori, memperkuat profesionalisme, dan menyiapkan generasi jurnalis berikutnya akan diuji dalam waktu yang lebih panjang.
Jika berhasil, museum ini bukan hanya menjadi bangunan dua lantai di sudut Kota Serang, melainkan penanda bahwa pers digital Indonesia tengah menulis babak barunya sendiri.










